MAKALAH
“KERAJAAN PAJAJARAN DAN KERAJAAN BALI”
DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 6
SKY NET JATISARI
XI IPA 4
SMA NEGERI 1 BANYUSARI
TAHUN AJARAN 2017 / 2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Kerajaan Padjajaran dan Kerajaan Bali”.
Dalam Penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki kami. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini kami menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan pembuatan makalah ini, khususnya kepada semua pihak yang terlibat langsung dalam pembuatan makalah ini.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG 1
B. RUMUSAN MASALAH 1
C. TUJUAN 2
BAB II PEMBAHASAN
A. KERAJAAN PAJAJARAN 3
1. Letak Geografi Kerajaan Pajajaran 3
2. Latar Belakang Berdirinya Kerajaan Pajajaran 3
3. Berkembangnya Kerajaan Pajajaran 3
4. Kehidupan Politik 4
5. Kehidupan Ekonomi 5
6. Kehidupan Sosial dan Budaya 6
7. Kehidupan Agama 7
8. Runtuhnya Kerajaan Pajajaran 7
B. KERAJAAN BALI 8
1. Asal Mula Berdirinya Kerajaan Bali 8
2. Raja – Raja Yang Memerintah Kerajaan Bali 8
3. Masa Kejayaan Kerajaan Bali 9
4. Kehidupan Masyarakat Kerajaan Bali 10
5. Penyebab Runtuhnya Kerajaan Bali 11
BAB III PENUTUP
A. KESIMPULAN 12
B. SARAN 13
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Di Indonesia banyak sekali terdapat kerajaan,salah satunya yaitu kerajaan pajajaran yang terletak di Jawa Barat.Diketahui kerajaan ini berdiri sesudah runtuhnya kerajaan Tarumanegara, hal ini dibuktikan dengan ditemukannya sebuah candi di desa cangkuang dekat Leles yang keberadaannya pastinya belum dapat diketahui, akibat dari data-data yang kurang untuk mengungkapkannya secara pasti. Para ahli berpendapat selain kerajaan Tarumanegara, terdapat sebuah kerajaan yang bernama kerajaan padjajaran,namun tidak dapat diketahui dimana pastinya lokasi kerajaan tersebut.
Beberapa catatan menyebutkan bahwa kerajaan pajajaran di dirikan pada tahun 923 oleh Sri jayabhupati, seperti yang di sebutkan dalam prasasti sanghyang tapak (1030 M) dikampung Pangcalikan dan Bantarmuncang, tepi Sungai Cicati, Cibadak, Sukabumi.
Kerajaan Bali terletak di pulau Bali, yaitu sebuah pulau kecil yang letaknya tidak jauh dari Jawa Timur. Sedikit informasi untuk mengantarkan pembahasan Kerajaan Bali, untuk lebih jauh lagi. Makalah ini akan menjelaskan tentang asal mula kerajaan Bali, raja-raja yang pernah memimpin Kerajaan Bali, dan masih banyak lagi.
Makalah ini kami susun dengan mengacu dari beberapa referensi, yaitu dari internet, dan juga buku pegangan siswa. Semoga makalah ini dapat menjelaskan bagaimana Kerajaan Bali tersebut dan makalah ini bisa bermanfaat bagi semua.
B. RUMUSAN MASALAH
1) Bagaimana proses terbentuknya kerajaan pajajaran?
2) Apa saja aspek kehidupan kerajaan pajajaran?
3) Faktor apa saja yang menyebabkan runtuhnya kerajaan pajajaran
4) Asal Mula Berdirinya Kerajaan Bali
5) Raja-Raja yang Memerintah Kerajaan Bali
6) Masa Kejayaan Kerajaan Bali
7) Kehidupan Masyarakat ( sosial, budaya, politik, dll)
8) Penyebab Runtuhnya Kerajaan Bali
C. TUJUAN
1) Untuk mengetahui proses terbentuknya kerajaan pajajaran.
2) Untuk mengetahui apa saja aspek kehidupan kerajaan pajajaran.
3) Untuk mengetahui apa saja faktor yang menyebabkan runtuhnya kerajaan pajajaran.
BAB II
PEMBAHASAN
A. KERAJAAN PAJAJARAN
1. Letak Geografis Kerajaan Pajajaran
Kerajaan Pajajaran adalah sebuah kerajaan hindu yang diperkirakan beribukotanya di Pakuan (bogor) di jawa barat. Dalam naskah-naskah kuno nusantara, kerajaan ini sering pula di sebut juga negeri sunda,pasundan,atau berdasarkan nama ibu kotanya yaitu pakuan pajajaran.Beberapa catatan menyebutkan bahwa kerajaan ini di dirikan tahun 923 oleh sri jayahupati seperti yang di sebutkan dalam prasasti sanghyang tapak.
2. Latar Belakang Berdirinya Kerajaan Pajajaran
Berdasarkan alur sejarah galuh,kerajaan pajajaran berdiri setelah wastu kencana wafat tahun 1475 karena sepeninggal rahyang wastu kencana kerajaan galuh dipecah dua di antara susuktunggal dan dewa niskala dalam kedudukan sederajat. Pajajaran atau pakuan pajajaran beribukota di pakuan (Bogor) dibawah kekuasaan Prabu susuktunggal (sang haliwungan) dan kerajaan galuh yang meliputi parahyangan tetap berpusat dikawali dibawah kekuasaan Dewa Niskala (Ningrat kancana). Oleh sebab itu pula prabu susuktunggal dan Dewa Niskala tidak mendapat gelar ”Prabu Siliwangi”, karena kekuasaan keduanya tidak meliputi seluruh tanah pasundan sebagaimana kekuasaan Prabu wangi dan rahyang wastu kencana (Prabu Siliwangi 1). Cikal bakal kerajaan pajajaran sejarah kerajaan ini tidak dapat terlepas dari kerajaan–kerajaan pendahulunya di daerah Jawa Barat, yaitu kerajaan Tarumanegara, kerajaan Sunda dan kerajaan Galuh, dan Kawali. Hal ini karena pemerintahan kerajaan Pajajaran merupakan kelanjutan dari kerajaan–kerajaan tersebut. Dari catatan-catatan sejaran yang ada, dapatlah ditelusuri jejak kerajaan ini, antara lain mengenai ibukota pajajaran yaitu pakuan.
3. Berkembangnya Kerajaan Pajajaran
Kerajaan Pajajaran awalnya terletak di daerah Galuh,Jawa Barat.Raja pertama Kerajaaan Pajajaran bernama sena.Namun tahta kerajaan Pajajaran kemudian direbu oleh saudara raja Sena yang bernama purbasora. Raja Sena dan keluarganya terpaksa meninggalkan keratin. Tidak lama kemudian,Raja Sena berhasil merebut kembali tahta kerajaan pajajaran.
Raja Pajajaran selanjutnya adalah Jayahubpati,pada masa pemerintahannya, kerajaan pajajaran mengembangkan ajaran Hindu waisnawa. Setelah Jayahubpati kerajaan di perintah oleh Rahyang Niskala Wastu Kencana. Pada masa pemerintahannya, pusat kerajaan di pindahkan ke Kawali. Raha Wastu kemudian, di gantikan oleh Hayam Wuruk. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1357 dan di sebut dalam kitab Pararaton sebagai oerang Bubat. Ketika perang bubat terjadi Sri Baduga Maharaja bersama seluruh pengiringnya tewas. Kerajaan Pajajaran di ambil alih oleh Hyang Bunisora (1357-1373), pengasuh putra mahkota Wastu kencana yang masih kecil.Hyang Bonisora berkuasa selama 14 tahun. Pada prasasti batu tulis,raja ini di sebut juga Prabu Guru Dwataprani.
Kerajaan Pajajaran selanjutnya di perintahkan secara beruntun oleh Wastu Kencana, tohaan, salalu sang Ratu Jayadewata ,di perkirakan bahwa Kerajaan telah terdapat penduduk beragama islam. Hal ini tergambar dari tulisan seorang ahli Portugis yang bernama Tome Pires (1513) yang menyatakan bahwa di wilayah Timur kerajaan ini terdapat banyak menganut Islam.Tampaknya pengaruh Islam belum masuk ke pusat kerajaan. Namun,pengaruh Islam dari kerajaan Demak di Jawa Tengah mulai mengancam kerajaan Pajajaran. Oleh karena itu Jayadewata bermaksud meminta bantuan Portugis di Malaka untuk menghadapi kerajaan dan usaha itu terlambat karena pada tahun 1527,pasukan yang dipimpin oleh Falatehan dari Demak berhasil menguasai Pelabuhan terbesar Kerajaan Pajajaran. Ketika itu, yang berkuasa di Pajajaran adalah Ratu Samiam,putra Jayadewata.
Setelah Pelabuhan Sunda Kelapa di rebut oleh oleh Kerajaan Demak,Kerajaan pajajaran harus menghadapi serangan Kerajaan Banten dari arah Barat. Pengganti Samiam, yaitu Prabu Ratu Dewata, berusaha mempertahankan ibu kota Pajajaran dari pasukan Maulana Hasanudin dan putranya Maulana Yusuf pada tahun 1579.
4. Kehidupan Politik
Bentuk dan sistem pemerintahan raja raja Pajajaran hanya dapat diketahui dari beberapa orang raja saja. Raja raja yang diketahui pernah memerintah dikerajaan Pajajaran diantaranya sebagai berikut:
Maharaja Jayabhupati dalam prasasti ditulis maharaja Jayabhupati menyebut dirinya Haji Ri sunda.Sebutan ini bertujuan meyakinkan kedudukannya sebagai raja kerajaan Pajajaran. Raja Jayabhupati memeluk agama Hindu beraliran waisnawa. Pusat pemerintahannya diperkirakan berada di daerah Pakuan Pajajaran dan kemudian pindah ke Kawali.
Rahyang Niskala Wastu Kencana Raja ini naik tahta menggantikan raja Maharaja Jayabhupati pusat pemerintahannya terletak di Kawali dan istananya bernama Surawisesa.
Rahyang Dewa Niskala raja Dewa Niskala atau Rahyang Ningrat Kencana,i raja menggantikan Rahyang Niskala Wastu Kencana.Namun tidak diketahui bagaimana Kencana siste Pemerintahannya.
Sri Baduga Maharaja Sri Baduga Maharaja bertahta di pakuan pajajaran. Pada pemerintahannya,terjadi pertempuran yang sangat besar dalam kitab Pararaton disebut Perang Bubat. Peristiwa ini terjadi tahun 1357 M. Dalam pertempuran itu,semua pasukan pajajaran gugur termasuk raja Sri Baduga sendiri beserta putrinya.
Hyang Wuni Sora Raja ini berkuasa menggantikan Raja Sri Baduga Maharaja. Setelah ia berturut-turut digantikan oleh Prabu Niskala Wastu Kencana (1371-1474 M), Tohaan (1475-1482 M) yang berkedudukan di Galuh, Ratu Jay Dewata (1482-1521 M).
Ratu Samian atau Prabu Surawisesa pada masa Pemerintahannya, pada tahun1512 M dan 1521 M, ia berkunjung ke Malaka untuk meminta bantuan portugis dalam rangka menghadapi kerajaan demak. Namun bantuan yang diharapkan itu ternyata sia-sia, karena pelabuhan terbesar kerajaan pajajaran, yaitu Sunda Kelapa sudah dikuasai oleh pasukan kerajaan demak dibawah pimpinan Fatahilah. Akibatnya, hubungan Pajajaran dengan dunia luar terputus.
Prabu Ratu Dewata (1535-1543) raja ini memerintah menggantikan prabu Susawisesa. Pada masa pemerintahannya, terjadi berbagai serangan dari kerajaan Banten yang dipimpin oleh Maulana Hasanudin, dibantu oleh anaknya Maulana Yusuf. Berkali-kali pasukan Banten (Islam) berusaha merebut ibukota Pajajaran tahun 1579 M. Peristiwa ini mengakibatkan runtuhnya kerajaan hindu Pajajaran di Jawa Barat.
5. Kehidupan Ekonomi
- Perdagangan laut
Kerajaan pajajaran memiliki enam pelabuhan penting,yakni pelabuhan Banten,Pontang,Cigade,Tamagra,Kelapa(Sunda kelapa atau jakarta sekarang),dan Cimanuk (mungkin Pamanukan sekarang).Setiap pelabuhan dikepalai oleh seorang syahbandar yang bertanggung jawab kepada raja dan bertindak sebagai wakil raja di bandar-bandar yang dikuasai.
Melalui keenam pelabuhan itu,KerajaanPajajaran melakukan perdagangan dengan daerah atau negara lain.Wilayah perdagangan mencapai pulau sumatra bahkan kepulau Maladewa.Barang-barang dagangan sebagai sumber penghasilandan kerajaan pajajaran umumnya berupa bahan makanan dan lada.Tetapi barang dagangan yang lebih penting adalah beras.Barang-barang lain yang dapat diperoleh dipelabuhan kerajaan pajajaran seperti sayur-sayuran,sapi,kambing,biri-biri,babi,tuak,dan buah-buahan.Disampang itu,ada jenis bahan pakaian yang didatangkan dari cambay(india).Mata uang yang digunakan sebagai alat tukar adalah mata uang cina .
- Pedagang Darat
Kerajaan Pajajaran juga memiliki lalu lintas perdagangan darat yang cukup penting. Jalan darat itu berpusat di PakuanPajajaran,ibu kota kerajaan.Jalan yang satu menuju ke arah timur dan yang lain menuju ke arah barat.
Jalan menuju ke arah timur menghubungkan Pakuan Pajajaran dengan karang sambung yang terletak di tepi Sungai Cimanuk,melalui Cileungsi dan Cibarusa lalu membelok ke Karawang.Dari Tanjung Puraini di teruskan ke Cikao dan Purwakarta,dan berakhir di Karang Sambung.
Sedangkan jalan lain yang menuju ke arah barat,mulai dari Pakuan Pajajaran melalui Jasinga dan Rangkasbitung,menuju Serang dan berakhir di Banten.Jalan darat lain dari Pakuan Pajajaran menuju Ciampea mulai daroi Muara Cianten.Melalui jalan darat dan sungai tersebut hasil bumi kerajaan Pajajaran diperdagangkan.Melalui jalan itu pula bahan yang diperlukan oleh penduduk yang berada di daerah pedalaman di salurkan.Dengan demikian,sistem perekonomian di Kerajaan Pajajaran sudah berkembang dan sudah maju saat itu.
6. Kehidupan Sosial Dan Budaya
Kehidupan sosial
Dalam perkembangan kehidupan sosial dari masyarakat pajajaran dapat digolongkan menjadi:
• Golongan seniman seperti pemain gamelan,pemain wayang,penari.
• Golongan petani.
• Golongan pedagang .
• Golongan yang dianggap jahat,yaitu tukang coprt,tukang rampas,begal,malingdan sebagainya.
Kehidupan Budaya
Sejak zaman Kerajaan Tarumanegara,kehidupan kebudayaan rakyat Jawa Barat (rakyat sunda) dipengaruhi oleh budaya Hindu.Pengaruh agama Hindu terhadap Kerajaan Tarumanegara dapat diketahui dari:
• Arca-arca Wisnu di daerah Cibuaya dan arca-arca rajarsi.
• Kitab parahyangan dan kirtab sanghayan siksakanda.
• Cerita-cerita dalam sastra sunda kuno bercorak hindu.
7. Kehidupan Agama
Agama resmi yang dianut di Kerajaan Pajajaran adalah agama Hindu, tetapi sebenarnya saat itu agama leluhur sudah mulai kembali mendesak keberadaan agama Hindu. Keadaan tersebut membuat pemuka Hindu saat itu harus “kompromi” dengan ajaran leluhur. Salah satu bentuk kompromi tersebut adalah dengan diposisikannya Batara Seda Niskala di atas dewa-dewa Hindu. Batara Seda Niskala adalah sebutan lain untuk Hiyang, yaitu dewa tertinggi pada ajaran leluhur yang menciptakan, menguasai, dan menentukan kehidupan manusia dan kehidupan alam pada umumnya. Dia berada di luar alam kehidupan manusia, yaitu bersemayam di Kahiyangan. Sifat-sifat Hiyang tercermin dalam julukan-Nya, antara lain Batara Seda Niskala (Yang Gaib), Batara Tunggal (Yang Maha Esa), Sanghiyang Keresa (Yang Kuasa), Batara Jagat (Yang Menguasai Alam Semesta). Mereka pun membuat ajaran keyakinan, tata cara peribadatan kepada Hiyang, dan etika hidup keagamaan mereka sendiri. Ajaran keyakinan, tata cara peribadatan, dan etika hidup keagamaan mereka dinamai agama Jatisunda. Para penduduk yang tidak puas terhadap ajaran agama Hindu dan Budha, maka muncullah agama Jatisunda sebagai jalan keluarnya.
8. Runtuhnya Kerajaan Pajajaran
Kerajaan pajajaran runtuh pada tahun 1579 akibat serangan kerajajan sunda lainnya,yaitu kesultanan Banten.Berakhirnya zaman pajajaran di tandai dengan di boyongnya Palangka Sriman Sriwacana(Singgahsana raja),dari Pakuan Pajajaran Ke Keraton Surosowan di Banten oleh pasukan Maulana yusuf.Batu berukuran 200x160x20 cm itu diboyonngkan ke Banten karena tradisi politik agar di Pakuan pajajaran tidak di mungkinkan lagi penobatan raja baru,dan memungkinkan dan menandakan Maulana yusuf adalah penerus kerajaan sunda yang sah karena buyut perempuannya adalah puteri Sri baduga maha raja,raja kerajaan sunda Palangka Sriman Sriwacana tersebut saat ini bisa di temukan di depan bekas keraton Surosoan di Banten.Masyarakat Banten menyebutnya Watu Gilang,berarti mengkilap atau berseri,sama artinya dengan kata sriman.Saat itu diperkirakan terdapat sejumlah Punggawa istana yang meninggalkan istana lalu menetap di daerah Lebak.Mereka menerapkan tata cara kehidupan mandala yang ketat, dan sekarang mereka dikenal sebagai orang Baduy.
B. KERAJAAN BALI
1. Asal Mula Berdirinya Kerajaan Bali
• Pusat Kerajaan Bali pertama di Singhamandawa.
• Raja pertama Sri Kesariwarmadewa.
• Beberapa prasasti yang ditemukan tidak begitu jelas menggambarkan bagaimana pergantian diantara 1 keluarga raja dengan keluarga raja yang lain.
• Prasasti yang ditemukan di Jawa Timur hanya menerangkan bahwa Bali pernah dikuasai Singasari pada abad ke – 10 & Majapahit abad ke – 14.
2. Raja – Raja Yang Memerintah Kerajaan Bali
Informasi tentang raja-raja yang pernah memerintah di Kerajaan Bali diperoleh terutama dari prasasti Sanur yang berasal dari 835 Saka atau 913. Prasasti Sanur dibuat oleh Raja Sri Kesariwarmadewa. Sri Kesariwarmadewa adalah raja pertama di Bali dari Dinasti Warmadewa. Setelah berhasil mengalahkan suku-suku pedalaman Bali, ia memerintah Kerajaan Bali yang berpusat di Singhamandawa. Pengganti Sri Keariwarmadewa adalah Ugrasena. Selama masa pemerintahannya, Ugrasena membuat beberapa kebijakan, yaitu pembebasan beberapa desa dari pajak sekitar tahun 837 Saka atau 915. Desa-desa tersebut kemudian dijadikan sumber penghasilan kayu kerajaan dibawah pengawasan hulu kayu (kepala kehutanan). Pada sekitar tahun 855 Saka atau 933, dibangun juga tempat-tempat suci dan pesanggrahan bagi peziarah dan perantau yang kemalaman.
Pengganti Ugrasena adalah Tabanendra Warmadewa yang memerintah bersama permaisurinya, ia berhasil membagun pemandian suci Tirta Empul di Manukraya atau Manukaya, dekat Tampak Siring. Pengganti Tabanendra Warmadewa adalah raja Jayasingha Warmadewa. Kemudian Jayasadhu Earmadewa. Masa pemerintahan kedua raja ini tidak diketahu secara pasti. Pemerintahan kerajaan Bali selanjutnya dipimpin oleh seorang ratu. Ratu ini bergelar Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi. Ia memerintah pada tahun 905 Saka atau 938. Beberapa ahli memperkirakan ratu ini adalah putri dari Mpu Sindok dari kerajaan Mataram Kuno.
Pengganti ratu ini adalah Dharma Udayana Warmadewa. Pada masa pemerintahan Udayana, hubungan Kerajaan Bali dan Mataram Kuno berjalan sangat baik. Hal ini disebabkan oleh adanya pernikahan antara Udayana dengan Gunapriya Dharmapatni, cicit Mpu Sendok yang kemudian dikenal sebagai Mahendradata. Pada masa itu banyak dihasilkan prasasti-prasasti yang menggunakan huruf Nagari dan Kawi serta bahasa Bali Kuno dan Sangsekerta.
Setelah Udayana wafat, Marakatapangkaja naik tahta sebagai raja Kerajaan Bali. Putra kedua Udayana ini menjadi raja Bali berikutnya karena putra mahkota Airlangga menjadi raja Medang Kemulan. Airlangga menikah dengan putri dari Darmawngasa dari kerajaan Medang Kemulan. Dari prasasti-prasasti yang ditemukan terlihat bahwa Marakatapangkaja sangat menaruh perhatian pada kesejahteraan rakyatnya. Wilayah kekuasaannya meliputi daerah yang luas termasak Gianjar, Buleleng. Tampaksiring dan Bwahan (Danau Batur). Ia juga mengusahakan pembangunan candi di Gunung Kawi.
Pengganti raja Marakatapangkaja adalah adiknya sendiri yang bernama Anak Wungsu. Ia mengeluarkan 28 buah prasasti yang menunjukkan kegiatan pemerintahannya. Anak Wungsu adalah raja dari Wangsa Warmadewa terakhir yang berkuasa di kerajaan Bali karena ia tidak mempunyai keturunan. Ia meninggal pada tahun 1080 dan dimakamkan di Gunung Kawi (Tampak Siring).
Setelah anak Wungsu, kerajaan Bali dipimpin oleh Sri Sakalendukirana. Raja ini digantikan Sri Suradhipa yang memerintah dari tahun1037 Saka hingga 1041 Saka. Raja Suradhipa kemudian digantikan Jayasakti. Setelah Raja Jayasakti, yang memerintah adalah Ragajaya selitar tahun 1155. Ia digantikan oleh Raja Jayapangus (1177-1181). Raja terakhir Bali adalah Paduka Batara Sri Artasura yang bergelar Ratna Bumi banten (Manikan Pulau Bali). Raja ini berusaha mempertahahankan kemerdekaan Bali dari seranggan Majapahit yang di pimpin oleh Gajah Mada. Sayangnya upaya ini mengalami kegagalan. Pada tahun 1265 Saka tau 1343, Bali dikuasai Majapahit. Pusat kekuasaan mula-mula di Samprang, kemudian dipindah ke Gelgel dan Klungkung.
3. Masa Kejayaan Kerajaan Bali
Naik tahtanya Dharma Udayana. Pada masa pemerintahnnya, system pemerintahan Kerajaan Bali semakin jelas. Perkawinan antara Dharma Udayana dengan Mahendradata yang merupakan putri dari raja Makutawangsawardhana dari Jawa Timur, sehingga kedudukan Kerajaan Bali semakin kuat.
4. Kehidupan Masyarakat Kerajaan Bali
a. Kehidupan Politik
Stuktur birokasi kerajaan Bali berdasarkan pada prasati yang dikeluarkan oleh raja Udayana adalah sebagai berikut.
1. Raja berperan sebagai kepala pemerintahan, jabatan Raja diwariskan secara turun temurun.
2. Badan penasihat Raja disebut pekirakiran i jro makabehan yang bertugas memberi nasehat dan pertimbangan kepada Raja dalam pengambilan keputusan penting. Badan ini terdiri dari beberapa senapati dan beberapa pendeta agama Hindu ( dang acarya ) dan Buddha ( dan upadhyaga )
3. Pegawai Kerajaan membantu raja dalam bidang pemerintahan, penarikan pajak dan administrasi.
b. Kehidupan Sosial
Pada masa Kerajaan Bali Kuno, struktur masyarakatnya didasarkan pada sistem kasta, sistem hak waris, sistem kesenian, serta agama dan kepercayaan. Ada hal yang menarik dalam sistem keluarga Bali yang berkaitan dengan pemberian nama anak, misalnya Wayan, Made, Nyoman, dan Ketut. Pada golongan Brahmana dan Ksatria untuk anak pertama disebut Putu. Pemberian nama tersebut diperkirakan dimulai pada zaman Raja Anak Wungsu dan berkaitan dengan upaya pengendalian jumlah penduduk.
c. Kehidupan Ekonomi
Kegiatan ekonomi masyarakat Kerajaan Bali adalah bercocok tanam. Hal tersebut dapat di ketahui dari beberapa prasasti Bali yang menyebutkan sawah, parlak ( sawah kering ), gaja (ladang), kebwan (kebun), dan kasuwakan (pengairan sawah).
d. Kehidupan Budaya
Pada prasasti-prasasti sebelum pemerintahan Raja Anak Wungsu, telah disebut beberapa jenis seni yang ada pada waktu itu. Namun baru pada zaman Raja Anak Wungsu dapat membedakan jenis seni ke dalam dua kelompok besar, yaitu seni keraton dan seni rakyat yang biasanya berkeliling menghibur rakyat. Berikut jenis-jenis seni yang berkembang pada masa itu :
a) Patapukan (atapuk/topeng)
b) Pamukul (amukul/penabuh gamelan)
c) Abanwal (permainan badut)
d) Abonjing (bujing musik Angklung)
e) Bhangin (peniup suling)
f) Perbwayang (permainan wayang)
5. Penyebab Runtuhnya Kerajaan Bali
Dikisahkan seorang raja Bali yang saat itu bernama Raja Bedahulu atau yang dikenal dengan nama Mayadenawa yang memiliki seorang patih yang sangat sakti yang bernama Ki Kebo Iwa. Kedatangan Gadjah Mada dari kerajaan majapahit ke Bali adalah ingin menaklukan Bali di bawah pimpinan Kerajaan Majapahit, namun karena tidak mampu patih Majapahit itu mengajak Ki Kebo Iwa ke jawa dan disana disuruh membuat sumur dan setelah sumur itu selesai Ki Kebo Iwa di kubur hidup-hidup dengan tanah dan batu namun dalam lontar Bali Ki Kebo Iwa tidak dapat dibunuh dengan cara yang mudah seperti itu. Tanah dan batu yang dilemparkan ke sumur balik dilemparkan ke atas. Pada akhirnya dia menyerahkan diri sampai ia merelakan dirinya untuk dibunuh baru dia dapat dibunuh. Setelah kematian Ki Kebo Iwa, Bali dapat ditaklukan oleh Gadjah Mada pada tahun 1343.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
a. Kerajaan Pajajaran
Kerajaan-kerajaan diketahui berdiri sesudah runtuhnya kerajaan Tarumanegara hal ini dibuktikan dengan ditemukannya sebuah Candi di desa Cangkuang dekat leles yang keberadaannya pastinya belum diketahui, akibat dari data-data yang kurang untuk mengungkapkannya secara pasti.
Kerajaan pajajaran adalah sebuah kerajaan hindu yang diperkirakan beribukotanya di pakuan (bogor) jawa barat. Adapun Raja-rajanya yaitu:
• Maharaja Jayabhupati
• Rahyang Niskala Wastu Kencana
• Rahyang Dewa Niskala
• Sri Baduga Maharaja
• Hyang Wuni Sora
• Ratu Samian atau Prabu Surawisesa
• Prabu Ratu Dewata
Kerajaan pajajaran runtuh pada tahun 1579 akibat serangan kerajajan sunda lainnya,yaitu kesultanan Banten.
b. Kerajaan Bali
Kerajaan Bali adalah sebuah kerajaan yang terletak di sebuah pulau kecil yang terletak tidak jauh dari Jawa Timur. Masyarakatnya sangat kental dengan agama Hindu Buddhanya, bahkan sampai sekarang Pulau Bali, menjadi pulau yang mayoritas penduduknya beragama Hindu. Masyarakat di jaman Kerajaan Bali, memiliki keunikan tersendiri. Misalnya dalam memberi nama terhadap anak mereka, dan itu juga masih berlaku di masa sekarang.
B. SARAN
Kita sebagai warga negara Indonesia,Sebaiknya harus lebih mengetahui lagi tentang sejarah kerajaan-kerajaan yang ada di indonesia,seperti kerajaan pada makalah yang kami buat ini,yaitu mengenai kerajaan pajajaran,dan kita sebagai warga negara indonesia harus menjaga dan melindungi peninggalan-peninggalan yang diwariskan kepada kita sebagai generasi muda Indonesia.
Sekian rangkuman yang kami buat tentang Kerajaan Bali, semoga makalah ini dapat memberi pengetahuan yang lebih, dan dapat bermanfaat bagi semuanya. Apabila terdapat salah dalam pengejaan nama, dan informasi. kami ucapkan maaf yang sebesar-besarnya, dan terima kasih atas perhatiannya.
DAFTAR PUSTAKA
Q.Siti Waridah.2004.Sejarah Nasional. Jakarta: Bumi Aksara
Badrika,I Wayan.2006.Sejarah untuk SMA kelas XI. Jakarta: Erlangga
http://vao07.blogspot.co.id/2016/07/makalah-sejarah-kerajaan-pajajaran.html
https://zkamiye.blogspot.co.id/2012/08/contoh-makalah-kerajaan-bali_27.html
